Showing posts with label Arkeologi. Show all posts
Showing posts with label Arkeologi. Show all posts

Lonceng Kematian di Jaman Belanda

Written By Galang on Monday, February 27, 2012 | 1:24 PM



Soli Deo Gloria, demikian nama lonceng itu. Lonceng besar yang menggantung di atap menara stadhuis (balai kota) Batavia di sekitar abad 18 itu terkesan begitu mengerikan. PAsalnya setiap kali lonceng ini berbunyi, itu pertanda ada tawanan, yang dinilai jahat oleh Pemerintah Belanda kala itu, yang akan menemui ajal dihukum gantung.


Siang, beberapa hari lalu, Warta Kota mencoba naik ke menara yang kini jadi menara Museum Sejarah Jakarta (MSJ). Bagian menara memang tidak dibuka untuk umum karena kondisi atap gedung dan menara tak lagi memungkinkan dilewati banyak orang. Ruangan di menara di mana lonceng berada juga sempit. Untuk sampai di atas menara, orang harus melewati dua tangga yang curam.


Sampai di atas menara, Warta Kota menemukan sebuah alat penggerak kuno yang sudah lama tak terpakai. Pada alat itu menggantung semacam bandul. Lonceng yang terbilang kecil menempel di bagian atas. Di dekat lonceng ini ada besi yang dikaitkan dengan engkol. Jika engkol ditarik kemudian dilepas, maka besi tadi akan memukul lonceng. Bunyinya tak sebanding dengan cerita-cerita masa lalu, di mana saat ?Lonceng Kematian? ini berdentang, pertanda rakyat akan menyaksikan malaikat pencabut nyawa menggantung pesakitan.


Lonceng ini akan dibunyikan untuk memanggil semua warga di dalam maupun di luar tembok Batavia untuk menyaksikan hukuman gantung.


Lonceng yang bertuliskan Soli Deo Gloria dari abad 18 itu terbuat dari besi dengan bentuk kokoh. Lonceng buatan tahun 1742 itu rasanya sudah tak jelas keberadaannya. Di masa Gubernur DKI Ali Sadikin, 1973, gedung bekas balai kota ini mengalami pemugaran besar-besaran.Sayangnya, tak ada data yang menyebutkan bagian mana saja yang sudah dipugar dan diganti dengan material baru.


Menurut arkeolog yang juga Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua Candrian Attahiyyat, kemungkinan besar lonceng pun ikut diganti. ?Lonceng yang sekarang kan kecil. Kemungkinan sudah mengalami perubahan sejak sebelum 1973, tapi bisa juga pada saat pemugaran besar tahun 1973,? ujarnya.


Dalam buku ?Dari Stadhuis ke Museum? , Hans Bonke dan Anne Handojo menyebutkan, tanggal 25 Januari 1707, Petronella Wilhelmina, putri Gubernur Jenderal Joan van Hoorn (1704-1709) meletakkan batu pertama. Menara kecil dipasang di atas atap dan lonceng dipasang kembali di sisi bordes. Dalam catatan lain, lonceng dibikin tahun 1742, itu artinya selama abad 18 saja sudah terjadi perubahan. Bisa jadi lonceng kematian dibikin setelah terjadi pembantaian orang China pada 1740. Eksekusi terakhir yang mengikutsertakan lonceng kematian terjadi pada 1896. Tjoen Boen Tjeng dihukum gantung karena terlibat dalam penjarahan.


Buku ini juga mencatat, setelah tahun 1870 para juru foto dari Woodbury & Page yang membuat foto-foto pertama di Batavia menunjukkan bahwa bagian depan stadhuis sudah banyak berubah dalam 20 tahun terakhir.Sayang perubahan yang terjadi di sepanjang abad 18, 19, hingga 20 tak banyak tercatat secara detil.

(kompas.com)
1:24 PM | 0 comments | Read More

Istana Sekaligus Kuburan di Gua Harimau

Written By Galang on Friday, February 24, 2012 | 12:28 AM

RIWAYAT SUMATERA - Tim peneliti saat berada di Gua Harimau, Desa Padangbindu, Kecamatan Semidangaji, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.

Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang dipimpin oleh Prof Dr Truman Simanjuntak menemukan 17 kerangka manusia kuno di Gua Harimau, Desa Padangbindu, Kecamatan Semidangaji, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.

Truman Simanjuntak di lokasi penggalian, Kamis (14/4/2011), mengatakan, Gua Harimau memperlihatkan indikator hunian prasejarah dan sekaligus hamparan kuburan.

Terbukti sejak penelitian tahun 2008 hingga saat ini sudah ditemukan 17 kerangka manusia kuno yang diperkirakan hidup 3.000 tahun lalu. Peneliti juga menemukan perkakas rumah tangga dari bahan logam.

Truman, dengan didampingi Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Aufa S Syarkomi, mengatakan, tim peneliti akan menggali lagi hingga 30 April mendatang di Gua Harimau.

Tim peneliti juga menemukan satu kuburan dengan tiga tengkorak digabung dalam satu liang. Menurut Truman, penemuan ini semakin unik dan menarik untuk diteliti.

"Mungkin yang meninggal ini anak raja atau pemimpin, biasanya pengawalnya ikut dibunuh dan dikubur dalam satu lubang supaya anak raja ini bisa ada teman di dunianya yang baru," terang Truman. Menurut dia, itu baru analisis sementara karena masih banyak kemungkinan-kemungkinan lain.

Sejumlah kerangka manusia kuno ini dikubur dengan berbagai posisi (tidak satu arah), ada pula tengkorak orok. Baru separuh gua yang digali, sudah ditemukan belasan tengkorak. "Sudah terlihat hamparan kuburan," kata Truman.

Ia berkesimpulan sementara, Gua Harimau merupakan tempat hunian dan sekaligus hamparan kuburan. Jika Prof Truman memperkirakan komunitas itu ada rajanya, maka dapat ditafsirkan pula bahwa tempat hunian di gua itu juga sebagai istana pada masanya.

Menurut Prof Truman, Gua Harimau dijadikan hunian sekaligus kuburan karena sangat luas. Pintu masuknya selebar kira-kira 40-50 meter. Langit-langit atap gua sangat tinggi, sekitar 20-35 meter. Sementara di tempat lain, kata Truman, biasanya kuburan berada di puncak-puncak gua supaya tidak mengganggu aktivitas penghuni gua.

Prof Truman, kepada Aufa S Syarkomi yang melihat langsung aktivitas peneliti, berjanji akan datang kembali ke lokasi. "Saya sangat tertarik dan ingin tahu lebih jauh seputar temuan penelitian di Gua Harimau ini," kata Aufa.

Prof Truman Simanjuntak memimpin tim yang beranggotakan Wahyu, Saptomo, Dr Bagyo Prasetyo, Dr Fadilla Arifin Aziz, Jatmiko, Retno Handini, Dwi Yani Yuniawati, Dariusman Abdillah, Vita, dan tiga teknisi, yaitu Romania Lumban Gaol, Ngadiman, dan Sigit Eko Prasetyo.duniaunik.info 

Pada November 2010 silam, Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran Harry Widianto meyakini, kuburan massal di Gua Harimau adalah sisa-sisa rangka manusia prasejarah dari ras Mongoloid.

Keyakinan itu berangkat dari ciri-ciri morfologi rangka temuan, terutama dari bentuk tengkorak yang meninggi dan membundar (brachycephal) dan tulang tengkorak bagian belakang (occiptal) yang datar.

Selain itu, juga ada ciri morfologi gigi seri, bentuk orbit mata, kedalaman tulang hidung (nasal), serta dari postur tulang dan tubuh mereka yang khas Mongoloid. "Ciri-ciri morfologinya memang menunjukkan identitas mereka sebagai bagian dari ras Mongoloid," kata Harry saat itu.

Ia memperkirakan, peradaban di Gua Harimau berasal dari masa antara 3.500 dan 2.000 tahun lampau.

Sumber:
12:28 AM | 0 comments | Read More

Mahkluk Hidup Aneh Yang Hidup Sebelum Dinosaurus (Periode Permian)

Written By Galang on Monday, July 4, 2011 | 5:12 PM

Periode Permian berlangsung 290-248 juta tahun yang lalu dan merupakan periode terakhir dari Era Paleozoikum. Peralihan antara era Paleozoikum dan Mesozoikum terjadi pada akhir era Permian sebagai pengakuan atas kepunahan massal terbesar yang tercatat dalam sejarah kehidupan di Bumi. Hal ini mempengaruhi banyak kelompok organisme dalam lingkungan yang berbeda dan sangat berpengaruh kepada masyarakat laut yang menyebabkan kepunahan sebagian besar invertebrata laut dari waktu. Beberapa kelompok yang selamat dari kepunahan Permian sangat sedikit, tetapi mereka tidak pernah lagi mencapai dominasi ekologis yang pernah mereka miliki, membuka jalan bagi kelompok lain kehidupan laut. Di darat, kepunahan yang relatif lebih kecil dari diapsids dan synapsids membersihkan jalan bagi bentuk-bentuk lain untuk mendominasi, dan menyebabkan apa yang disebut "Zaman Dinosaurus". Selain itu, hutan besar tanaman pakis seperti bergeser ke gymnosperma, tanaman dengan keturunan mereka ditutupi di dalam benih. Tumbuhan runjung modern, yaitu gymnosperma yang paling akrab saat ini, pertama kali muncul dalam catatan fosil dari periode Permian. Secara keseluruhan, Permian adalah waktu yang terakhir untuk beberapa organisme dan merupakan titik penting bagi organisme lain, dan kehidupan di bumi tidak pernah sama lagi.





1. Dimetrodon





Seekor Dimetrodon berpunggung seperti layar sedang berjalan di tengah lansekap Permian dalam ilustrasi diatas ini. Predator ini primitif, meskipun berpenampilan seperti dinosaurus, sebenarnya dianggap sebagai pelopor mamalia. Para ilmuwan berpendapat sirip besar di punggung mereka digunakan untuk mengatur suhu tubuh.





2. Dasar Laut Permia





Benua super Pangaea tercipta pada periode Permia, dimana laut dangkal di sekitar daratan yang besar menawarkan rumah bagi kehidupan yang beraneka ragam. Gambar diatas adalah diorama di University of Michigan Museum of Natural History menunjukkan beberapa flora dan fauna yang tumbuh di laut Permian, termasuk trilobita, gastropoda, kerang, nautiluses, dan karang.





3. Nautillus





Nautilus, seperti gambar diatas ini berenang di salah satu perairan di Palau, Mikronesia, nautiluses pertama kali muncul selama periode Permian dan merupakan segelintir organisme yang mampu bertahan hidup setelah kepunahan luas yang menyapu hampir 95 persen dari kehidupan di bumi sekitar 250 juta tahun yang lalu.





4. Ahli paleontologi Dengan Fosil





Ahli paleontologi (dari kiri) Stuart Sumida, David Berman, dan Thomas Martens memeriksa sisa-sisa fosil pabsti Orobates muda, seekor reptil herbivora kuno yang hidup sekitar 290 juta tahun yang lalu pada awal periode Permian. Fosil ini ditemukan pada tahun 2006 di Jerman pada tambang Bromacker, salah satu situs dunia yang paling produktif untuk menemukan fosil era permia.





5. Lystrosaurus





Gambar diatas menunjukkan Lystrosaurus sedang mencari makan di dekat sungai. Wajah yang rata dengan paruh dan dua gigi yang mirip taring, Lystrosaurs adalah synapsids, binatang yang muncul di era Permian dan menjadi nenek moyang mamalia.





6. Tengkorak Dinogorgon





Seperempat miliar tahun lalu, jauh sebelum dinosaurus atau mamalia berevolusi, predator Dinogorgon berukuran 10 kaki (0,3 meter) yang tengkoraknya ditampilkan pada gambar diatas ini berburu pada dataran basah pada tempat yang sekarang menjadi Afrika Selatan. Dalam waktu kurang dari satu juta tahun Dinogorgon lenyap dalam kepunahan massal terbesar yang pernah ada, bersama dengan sekitar sembilan dari setiap sepuluh spesies tumbuhan dan hewan di planet ini.





7. Kumbang Daun Dogbane





Kumbang Daun Dogbane berwarna-warni ini ditemukan pada bunga susan bermata hitam di Frederick, Maryland, nenek moyangnya berasal dari era Permian sekitar 260 juta tahun yang lalu. Kumbang selamat dari kepunahan massal pada era Permian dan Triassic serta dua kepunahan global berikutnya, dan sekarang, dengan kurang lebih 350.000 spesies yang diidentifikasi, mereka adalah anggota kerajaan binatang yang paling sukses.





8. Daun ginkgo





Ginkgo biloba merupakan spesies yang tersisa dari tatanan Ginkgoales, yang muncul pada awal Permian, sekitar 280 juta tahun yang lalu. Juga disebut pohon maidenhair, pohon Ginkgo biloba bisa mencapai 100 kaki (30 meter) tingginya dan hidup lebih dari seribu tahun. Daun dari fosil hidup ini banyak digunakan untuk obat-obatan herbal.





9. Ngarai Butterloch





Para ilmuwan mempelajari skala kepunahan periode Permia pada batuan longgar Ngarai Butterloch di Dolomites Italia. Tempat tidur fosil ekspos di sini menawarkan akses yang relatif mudah dalam membedakan titik transisi dari era Permia ke Triassic tersebut. Lapisan batu pada batuan ini mengandung sejumlah besar fosil jamur pemakan kayu, menunjukkan bahwa sejumlah besar pohon mati selama periode ini.





10. Pegunungan Guadalupe





Pegunungan Guadalupe di Texas adalah rumah bagi salah satu fosil terumbu karang terbesar di dunia, pegunungan kapur dengan panjang 644 kilometer dan berbentuk tapal kuda ini terbentuk sekitar 250 juta tahun yang lalu selama periode Permian. Pada saat itu, daerah yang sekarang menjadi Texas dan New Mexico ditutupi oleh lautan tropis yang luas. Pada saat laut ini mulai menguap, sedimen terumbu mengendap dan mengawetkan ribuan fosil laut yang sempurna.





11. Fosil Trilobite





Trilobita, seperti spesimen sempurna pada gambar diatas ini diawetkan di Institut Penelitian Geologi Black Hills South Dakota , termasuk di antara organisme yang paling sukses yang pernah ada di bumi. Arthropoda laut ini pertama kali muncul sekitar 545 juta tahun yang lalu di awal periode Kambrium dan berkembang di seluruh lautan di dunia sampai mereka musnah dalam kepunahan Permian sekitar 250 juta tahun yang lalu.





12. Cekungan Permia





Cekungan Permian berada pada sebagian besar Texas barat dan bagian dari New Mexico timur dan berisi sedimen Permian setebal kurang lebih 12.000 kaki (3.700 meter). Dulunya daerah ini merupakan dasar laut pada era Permian, daerah ini sekarang menjadi pusat produksi minyak Texas.



sumber
5:12 PM | 0 comments | Read More

Arkeolog Temukan Jaringan Otak Tertua di Dunia

Written By Galang on Saturday, April 2, 2011 | 3:59 PM

Arkeolog mengklaim temukan otak tertua di dunia milik pria yang dikorbankan untuk upacara ritual di Zaman Besi, Inggris. Yang menarik, otak itu masih menyimpan jaringan.

http://static.inilah.com/data/berita/foto/1368082.jpg

Ilmuwan yang menemukan tengkorak di sebuah lubang berlumpur saat melakukan penggalian di sekitar kawasan University of York, Heslington, Inggris, mengaku terkejut mendapati jaringan otak masih tersimpan di tengkorak itu.

Tes membuktikan otak itu milik seorang pria yang hidup di zaman besi dan tewas dengan cara mengerikan, 2.500 tahun lalu. Namun ilmuwan bingung bagaimana bisa jaringan otak yang biasanya membusuk selama beberapa tahun berhasil bertahan dalam jangka waktu yang begitu lama.

"Keberadaan otak yang terkubur begitu lama sangatlah aneh dan jarang terjadi," kata Sonia O'Connor, ahli arkeologi di University of Bradford.

"Otak itu menjadi objek yang sangat menarik karena diawetkan dengan baik. Ini menjadi otak tertua yang pernah tercatat sepanjang sejarah di Inggris dan menjadi salah satu otak tertua di dunia," kata O'Connor.

Ahli menyebutkan otak itu diperkirakan milik pria berusia 26-45 yang meninggal dengan cara digantung kemudian kepalanya dipenggal dan dikubur terpisah dengan tubuhnya.

Ilmuwan kini menyelidiki bagaimana protein dan lipid yang ditemukan di otak itu masih tersimpan dan bagaiamana pria itu mati kemudian dikuburkan.

“Ini adalah penyelidikan yang paling lengkap untuk benar-benar mengerti bagaimana otak bisa bertahan ribuan tahun, sedangkan jaringan lunak lainnya telah membusuk," ujar O'Connor lagi.

sumber
3:59 PM | 0 comments | Read More

Pterygotus, Kalajengking Laut Purba Sepanjang 2 Meter

Written By Galang on Thursday, March 10, 2011 | 10:09 PM

Kalajengking purba (Pterygotus) muncul pada pertengahan Masa Paleozoikum, kira-kira 400 juta tahun yang lalu.

Berbeda dengan kalajengking pada umumnya, bentuk kalajengking purba lebih sederhana. Tubuhnya terdiri dari banyak ruas-ruas yang terlindung cangkang tipis. Perbedaan lainnya adalah ukuran tubuh beberapa jenis kalajengking purba yang mencapai 100 kali ukuran kalajengking masa sekarang, 2 hingga 3 meter. Selain itu, kalajengking purba juga hidup di air.


Pterygotus Hidup sezaman dengan ikan hiu purba. Ia memiliki capit bergerigi untuk menangkap mangsanya.seperti yang telah disebutkan panjang tubuh Pterygotus dapat mencapai 2 meter. Walaupun tidak bertulang belakang, Pterygotus memiliki rangka luar yang keras.

sumber
10:09 PM | 0 comments | Read More

Di Flores Pernah Hidup Bangau Raksasa Pemakan Manusia

Written By Galang on Wednesday, December 8, 2010 | 9:42 PM

Pulau Flores, Nusa Tenggara makin memantapkan posisinya sebagai ‘gudangnya’ mahluk-mahluk aneh. Ada Komodo, gajah kerdil, tikus raksasa, bahkan manusia hobbit, Homo Floresiensis, yang ukurannya mini, lebih kecil dari manusia normal. Baru-baru ini satu hewan unik kembali ditemukan di Flores. Para ilmuwan dari Museum Nasional Sejarah Akam Smithsonian, Washington DC dan Museum Sejarah Alam Jakarta, Indonesia menemukan fosil bangau raksasa, leptoptilos robustus.

Peta Gua Liang Bua di Pulau Flores dimana ditemukan fosil burung bangau raksasa

Peta Gua Liang Bua di Pulau Flores dimana ditemukan fosil burung bangau raksasa

Para ilmuwan menemukan empat tulang kaki burung itu di gua-gua Liang Bua. Juga ditemukan fragmen sayap, meski diperkirakan burung itu badannya terlalu berat untuk meninggalkan tanah atau terbang. Usia fosil itu diperkirakan 20.000 hingga 50.000 tahun. Ketika hidup, burung ini diperkirakan memiliki tinggi 5 kaki 10 inchi atau 1,778 meter. Beratnya sekitar 2,5 stone atau 15,87 kilogram — bahkan jauh lebih besar dari spesies serupa saat ini. Temuan ini dipublikasikan dalam Jurnal Zoologi Linnean Society.

Beginilah perbandingan komposisi besar tubuh bangau raksasa dan manusia hobit yang kecil

Beginilah perbandingan komposisi besar tubuh bangau raksasa dan manusia hobit yang kecil

Salah satu ilmuwan, Dr Hanneke Meijer mengatakan, ia pertama kali menjumlai fosil burung raksasa ini di Jakarta. “Menemukan burung besar memang biasa di kepulauan Indonesia, tapi aku tak menyangka kami akan menemukan bangau marabou raksasa,” kata dia seperti dimuat situs Daily Mail.

Temuan ini membuktikan, betapa panjang bentang temuan di Flores — dari hewan kerdil sampai yang berukuran ekstrem.”Flores tidak pernah terhubung ke daratan Asia dan terisolasi dari pulau-pulau sekitarnya. Isolasi ini telah memainkan peran penting dalam membentuk evolusi fauna,” kata Meijer. Ada hal mengejutkan yang ditemukan ilmuwan. Mereka menemukan fosil sisa-sisa manusia mirip hobbit di lokasi yang sama dengan burung marabou itu pada tahun 2004 lalu.
 
Sejumlah spekulasi bermunculan, diduga para hobbit menyembah burung raksasa ini. Atau, ada yang menduga para hobbit memburu burung ini sebagai sumber protein. Ada lagi yang menyangka sebaliknya, burung ini memakan hobbit. Namun, kata Meijer, “benar tidaknya binatang ini makan hobbit masih spekulatif. Tidak ada bukti kuat.”
 
sumber http://ruanghati.com/2010/12/08/di-flores-pernah-hidup-bangau-raksasa-pemakan-manusia/
9:42 PM | 0 comments | Read More

Ditemukan Kerangka Moby Dick Berusia 200 Tahun Ikan Paus Raksasa Legendaris di Tepi Sungai Thames [FOTO]

Written By Galang on Tuesday, September 14, 2010 | 9:02 PM


Para arkeolog menemukan kerangka “Moby Dick” berusia 200 tahun di London terdampar di tepi Sungai Thames. Para ilmuwan telah menemukan tulang ikan paus raksasa yang seukuran Moby Dick ikan paus legendaris yang ditinggalkan di tepi Sungai Thames lebih dari 200 tahun yang lalu.

Kerangka tanpa kepala dari ikan paus Atlantik Utara langka mempunyai berat sekitar setengah ton, panjang 52 meter dan lebar sekitar 13 meter. Kerangka besar diyakini peninggalan abad ke 17 atau 18 dan tetap dalam kondisi baik seperti itu karena diawetkan lumpur sungai itu. Para ilmuwan percaya bahwa ketika meninggal di Greenwich itu oleh pemburu paus di laut ditarik sepanjang sungai Thames.


Binatang ini mungkin diseret di bagian ekor sampai ke tepi pantai, untuk memungkinkan dibawa ke London untuk dimanfaatkan daging bangkai, minyak dan balin. dan Kepalanya telah dipotong. Suatu daerah tulang dari salah satu tulang belakang hilang menunjukkan bahwa hewan tersebut mungkin telah mati oleh harpooned, atau galah kait yang digunakan untuk mengamankan bangkai.

Spesies – Eubalaena glacialis – kini terancam punah. Francis Grew, Kurator Senior dari Arkeologi dan Arsip Manajer di Museum of London, mengatakan: “Ini mungkin telah menjadi obyek tunggal terbesar ‘yang pernah ditemukan pada sebuah penggalian arkeologi di London.

‘Paus sesekali berenang ke Thames, dan ada catatan sejarah dari tempat mereka dilahirkan. “Menemukan sebuah kerangka, yang mungkin dapat dihubungkan dengan salah satu penampakan, sangat luar biasa.” Minyak paus digunakan untuk penerangan dan tulang ikan paus yang digunakan dalam segala hal dari korset wanita sampai payung.


Paus ini dapat tumbuh dengan panjang sekitar 55 kaki dan bagian kepala sampai sepertiga dari total panjang. Para pemburu ikan paus berburu beberapa abad yang lalu, dan terus ke paruh pertama abad ke-20. Sebelumnya spesies ini relatif biasa di Atlantik Utara. kisaran terbentang dari utara barat Afrika melintasi ke Florida, dan kemudian sejauh utara perairan Islandia dan sub-Arktik.

Kerangka paus tiba untuk pertama kalinya di Museum of London Docklands di serambi museum Selasa. Setelah dipertunjukkan kerangka akan dibawa ke rumah barunya di Natural History Museum, di mana ia akan digunakan oleh para peneliti untuk memahami lebih lanjut tentang spesies yang terancam punah ini.
Para ilmuwan dapat menggunakan tulang untuk mengambil DNA dan isotop stabil, yang dapat memberikan informasi tentang keanekaragaman genetik, distribusi di laut dan strategi pemberian pakan.


Richard Sabin, Kurator Senior Mamalia di Museum Sejarah Alam, mengatakan: “Kami sangat gembira tentang hal ini dengan ditemukannya fosil dalam kondisi baik dan utuh. ‘Orang-orang dari seluruh dunia akan dapat melakukan studi itu.
“Saya pikir ikan paus ini berusia sekitar 70 tahun – dalam usia lanjut – karena kami mendeteksi beberapa tanda-tanda penyakit pada tulang. ‘Setelah itu di Natural History Museum, kita akan dapat mengambil DNA sehingga kemudian kita akan memiliki umur yang lebih akurat, dan kita juga akan dapat menentukan jenis kelamin juga.
‘Paus Atlantik Utara adalah mamalia, yang bergerak sangat lambat sehingga bisa terlihat dengan mudah oleh pemburu paus harpooned. Sekarang hampir punah di Atlantik timur sehingga penemuan ini sungguh luar biasa. “
Tim Bradley, Project Manager di Pre-Construct Archaeology Ltd, mengatakan: “Ketika arkeolog di situs menelepon saya untuk mengatakan bahwa dia telah menemukan ikan paus saya pikir dia hanya bergurau. “Kami sangat senang telah membuat penemuan luar biasa seperti itu.”

9:02 PM | 0 comments | Read More

Fosil Raksasa Jebal Barez, Salah Satu Hoax Terbaik Dunia Maya

Written By Galang on Thursday, September 9, 2010 | 12:09 AM

Pada Oktober 2005, seorang giantology bernama Eric Belson menceritakan mengenai seorang arkeolog Belanda bernama Casper Shilling yang menemukan kerangka makhluk raksasa yang muncul dari kuburannya setelah gempa besar melanda kota Bam, Iran. Kisah ini kemudian menjadi populer di Indonesia dan cukup menarik perhatian di dunia maya.
Walaupun berita mengenai penemuan kerangka itu pertama kali muncul pada tahun 2005, kisah misterius ini baru populer di Indonesia pada tahun 2008 hingga sekarang. Ini cuplikan berita yang beredar di Indonesia:


"Sebuah Fosil makhluk hidup berukuran raksasa (atau bahkan mungkin ultra) yang ditemukan di kawasan Jebal Barez ini sangatlah mengagumkan. Menurut para peneliti, mungkin inilah hewan purba terbesar yang pernah eksis didunia pada masa lalu, ukuran kepalanya saja bisa mencapai panjang 26 meter dengan ketinggian 8 meter!!!"
"Diperkirakan, fosil tersebut mungkin muncul akibat adanya gempa Bumi yang melanda Iran pada 26 Desember 2003 lalu. Reruntuhan batuan akibat gempa bumi di Jebal Barez telah membuka fosil tersebut, yang selama berjuta-juta tahun terkubur didalam bukit-bukit tandus berbatu."
"Tim satuan Kepurbakalaan Iran yang bertanggung jawab penuh atas penggalian sepakat. Mereka menegaskan bahwa ini merupakan kerangka hewan raksasa tunggal, mungkin salah satu hewan purba berjalan melata. Ukurannyapun lebih besar daripada jenis-jenis Dinosaurus yang pernah ada sebelumnya. Tetapi, apakah hewan ini termasuk dalam jajaran Dinosaurus atau bukan, itulah yang belum bisa diterangkan.
"Mungkin inilah yang disebut sebagai kemustahilan Biologis. Setidaknya, kira-kira perlu bertahun-tahun bagi para ahli arkeologi dan paleontologi untuk mengetahui secara pasti mengenai identitas makhluk misterius tersebut."
Nah, sekarang pertanyaannya adalah: Apakah kerangka yang disebut kemustahilan biologis tersebut benar-benar ada? Apakah penemuan itu benar-benar terjadi?

Jawabannya adalah: Tidak.

Untuk mendapatkan jawaban ini, tidak butuh analisa yang rumit. Jika kita googling mengenai kerangka Jebal Barez, maka kita akan segera mendapatkan jawabannya.

Kisah penemuan beserta foto yang ditampilkan ini sebenarnya hanyalah bagian dari sebuah viral marketing.

Kalian yang menggemari Playstation pasti akan menyukai ini. Soalnya, kisah ini dbuat untuk mempromosikan game "Shadow of the Colossus" dari PS2.

Pernahkah kalian memainkannya?

Game ini menceritakan mengenai seorang pemuda yang bernama Wander yang melakukan perjalanan panjang dengan kudanya untuk menyelamatkan seorang gadis. Untuk mencapai tujuannya itu, ia harus berhasil mengalahkan 16 raksasa yang disebut Colossi.

Aspek yang cukup menarik dari kisah ini adalah bagaimana sebuah proses marketing dilakukan dengan jenius (atau serius). Perlu diketahui kalau untuk mempromosikan game ini, Sony tidak hanya menciptakan kisah penemuan kerangka Jebal Barez, mereka juga menciptakan banyak kisah lainnya. Saya akan memberikan beberapa saja sebagai contohnya.

Mari kita lihat bagaimana proses viral marketing ini dilakukan sehingga membawa kesuksesan besar bagi Shadow of the Colossus.

Pertama, Sony menciptakan seorang tokoh bernama Eric Belson yang meluncurkan sebuah blog yang beralamat di giantology.typepad.com. Di blog itu, ia memberikan banyak data mengenai penemuan kerangka-kerangka raksasa di seluruh dunia. Belson mengklaim dirinya sebagai seorang giantology (istilah yang dia ciptakan untuk menyebut bidang keilmuannya).

Pada tanggal 1 Oktober 2005, Belson mengumumkan kalau ia telah membeli domain giantology.net. Di domain barunya itu, ia memposting mengenai kerangka Jebal Barez pada tanggal 5 Oktober 2005.

Pada bulan itu juga game Shadow of the Colossus diluncurkan di Jepang dan Amerika Utara.

Disinilah muncul tokoh Casper Shilling, seorang arkeolog Belanda yang disebut Belson menemukan kerangka di Jebal Barez. Tentu saja, Shilling juga seorang tokoh fiktif. Shilling menceritakan kisah penemuan kerangka tersebut di websitenya www.paleoshilling.nl.

Sama seperti website lain yang khusus diciptakan untuk viral marketing, setelah Shadow of the Colossus diluncurkan beberapa lama, baik website milik Belson maupun Shilling menghilang begitu saja dari dunia maya. Namun, karena kisahnya di copy paste ke berbagai blog, sekarang kita masih bisa mendapatkan foto-foto yang diposting oleh Shilling.

Mengenai raksasa Jebal Barez, kepala kerangka makhluk itu terlihat seperti sketsa di bawah ini:


Bandingkan dengan Colossi ketigabelas bernama Phalanx yang ada di game Shadow of the Colossus. Lihat kepalanya.


Mirip sekali.

Pada tanggal 6 Oktober berikutnya, Belson memposting mengenai laporan tv lokal India yang memberitakan mengenai penemuan sebuah kerangka raksasa yang terdampar di pantai Tamil Nadu setelah terjadinya Tsunami besar. Namun kisah ini sebenarnya dibuat untuk mempromosikan Colossi pertama, Valus. Kerangka tersebut memang dibuat berdasarkan karakter Valus.


Pada 10 Oktober, Belson memposting mengenai penemuan sebuah kerangka raksasa oleh penyelam Australia Ed Guyler di laut dalam di wilayah Australia. Guyler percaya kalau kerangka itu dulunya adalah milik seekor belut raksasa. Namun kisah ini sebenarnya dibuat untuk mempromosikan Colossi ketujuh, Hydrus, yang memang menyerupai belut raksasa.


Pada tanggal 21 Oktober, Belson memposting berita mengenai seorang ahli geologi bernama Arkady Simkin yang pergi ke Siberia untuk mencari minyak. Namun, ia malah menemukan bangkai raksasa yang disebutnya Taurus Major. Kisah ini sebenarnya dibuat untuk mempromosikan Colossi kedua, Quadratus.


Pada tanggal 18 November, Belson memposting mengenai keluarga Sayre yang ketika sedang berlibur di Peru tanpa sengaja menemukan sebuah patung raksasa yang mirip dengan salah satu robot transformer. Kisah ini malah dilengkapi dengan sebuah foto yang memperlihatkan sebuah hierogliph yang menunjukkan adanya ukiran patung tersebut. Padahal, kisah ini dibuat untuk mempromosikan Gaius, Colossi ketiga.


Pada tanggal 26 Desember, Belson memposting foto cuplikan koran mengenai penemuan hierogliph di Lusaka, Zambia, yang luar biasanya, memperlihatkan empat Colossi sedang bersama-sama.


Terlalu spektakuler dan sangat berbau hoax!

Pada pertengahan April 2006, blog Belson lenyap dari dunia maya. Pada akhir 2007, website milik Casper Shilling juga lenyap dari dunia maya. Saat itu, game Shadow of the Colossus telah menjadi blockbuster di seluruh dunia.

Dari enam kisah yang diposting Belson tersebut, hanya satu yang sepertinya lolos dan menjadi populer di Indonesia.

Viral Marketing yang dibuat untuk mempromosikan Shadow of the Colossus ini dianggap sebagai salah satu hoax online terbesar di dunia. Namun paling tidak, usaha ini tidak percuma karena penjualan game ini cukup baik sehingga masuk ke dalam daftar greatest hits Sony pada Agustus 2006.

Diantara kalian mungkin ada yang bertanya: "Brother enigma, apa keuntungan viral marketing seperti ini? Jika seseorang membaca kisah Jebal Barez, belum tentu orang akan mengkaitkannya dengan Shadow of the Colossus. Jadi apa untungnya bagi game tersebut?"

Disitulah jeniusnya. Justru tujuannya adalah supaya orang lain membongkar rekayasa ini. Contohnya seperti yang saya lakukan sekarang.

Jika kalian yang sedang membaca tulisan ini adalah seorang penggemar PlayStation dan belum pernah memainkan Shadow of the Colossus, saya yakin kalian akan segera pergi ke toko dan membeli CD gamenya. Dan hebatnya, saya tidak dibayar oleh Sony untuk menulis artikel ini.

Bukankah itu jenius namanya?

sumber: http://xfile-enigma.blogspot.com/2010/09/fosil-raksasa-jebal-barez-salah-satu.html
12:09 AM | 0 comments | Read More

Syerem Ternyata Manusia Purba makan Otak Anak Kecil

Written By Galang on Wednesday, September 8, 2010 | 12:12 AM

Leluhur manusia di Eropa ternyata memakan otak dan daging manusia lain untuk bertahan hidup setiap hari, menurut penelitian terbaru.

Studi dari tulang fosil di Spanyol menunjukkan tindakan kanibalisme merupakan kejadian normal di kehidupan bermasyarakat manusia pertama Eropa pada 800 ribu tahun lalu.


http://i.okezone.com/content/2008/12/02/56/169914/PqUtDBbjrF.jpg

Tulang yang ditemukan pada goa Gran Dolina menunjukkan bukti pemotongan dan tanda lain dari alat batu masa awal.


Selain tulang banteng, rusa, domba dan binatang liar lainnya, para ilmuwan menemukan sisa-sisa pembantaian setidaknya 11 anak kecil dan remaja. Tulang-tulang tersebut tampak dihancurkan untuk diambil gizi di dalamnya. Selain itu, otak korban juga dimakan.


Tanda pada tulang di dasar tengkorak juga menunjukkan bahwa ada beberapa manusia yang dipenggal, kata salah satu penulis studi Jose Maria Bermudez de Castro.


“Kemungkinan mereka memotong tengkorak untuk mendapatkan otak. Otak sangat baik bagi kesehatan,” kata Bermudez de Castro.


Ilmuwan percaya bahwa manusia awal memakan manusia muda untuk mendapatkan nutrisi sekaligus sebagai cara membunuh keturunan musuh.

 
http://static.inilah.com/data/berita/foto/793501.jpg

Di sisi lain, tulang hewan menunjukkan tidak ada praktek keagamaan dari para leluhur.


Karena manusia dan hewan berada dalam porsi yang sama, ilmuwan berpendapat bahwa proses kanibalisme tidak terkait dengan ritual keagamaan.


Anak-anak menjadi target mereka karena memiliki daya tahan diri yang rendah, tulis studi ini seperti dikutip dari Daily Mail.




sumber :http://www.slowbos.com/showthread.php?41464-IIIIiiicchhh...Sereem-Manusia-Purba-Makan-
12:12 AM | 0 comments | Read More